You are browsing the archive for Docs Tags guru.

Menggagas Sekolah Guru: Sekolah Para Nabi

26 June 2012 in

Pekerjaan Guru sejatinya adalah pekerjaan para Nabi. Karenanya, sekolah para Guru sejatinya adalah sekolah para Nabi. Yaitu, sekolah bagi orang-orang yang akan diutus untuk menyempurnakan Akhlak kaumnya.

Eksistensi Nabi telah khatam, namun eksistensi pewarisnya akan terus ada sampai akhir zaman, merekalah para Ulama, pewaris para Nabi. Para Guru yang melahirkan generasi hebat sepanjang sejarah adalah para Guru yang Ulama, para Guru yang memiliki rasa takut hanya pada Allah swt. Para Guru yang membebaskan rasa takutnya kepada sistem, kepada ideology, kepada hawa-nafsu, kepada apapun kecuali hanya kepada Allah swt. Inilah Guru yang Ulama.

Keberanian! Itulah yang diajarkan pertama pada Sekolah Guru. Yaitu keberanian yang berangkat dari Takut dan Taqwa pada Allah swt sehingga melahirkan keberanian kepada apapun selainNya. Sesungguhnya hanya mereka yang bertaqwa yang mampu membuat lekukan di alam semesta. Hanya yang bertaqwa yang mampu menggoreskan amalnya merubah sejarah dunia.

Sepanjang sejarah para Guru ini adalah para pahlawan sesungguhnya, yang berjuang mengentaskan penindasan dan keterjajahan kaumnya. Merekalah para penggerak akal, jiwa dan tindakan menuju pembebasan. Guru-guru ini memiliki mental singa di siang hari dan mental rahib di malam hari. Mereka bukanlah para penjaja ilmu dan pengekor kesuksesan, mereka adalah para pembelajar sejati penegak kebenaran, penghancur ketidak-adilan, pelenyap ketertindasan, peretas kemuliaan bagi kaumnya, dan buminya, kemuliaan zamannya dan sistem Ilahiah. Merekalah ayah dan pemimpin para yatim sosial dan kaum tertindas.

Sesungguhnya makna mendidik bagi Guru yang menghayati perannya sebagai peran Nabi, bukanlah sekedar mentransfer ayat-ayat dan hikmah-hikmah semata, karena itu mengkhianati misi penciptaan manusia sebagai khalifah. Namun mendidik adalah merekonstruksi mind & character (aqal & akhlak), mentransformasi sosial dan budaya, mengkonservasi alam dan lingkungan, membangun wadah kedamaian bernama desa madani.

Tugas mereka bukanlah sekedar pembawa peringatan, mengharamkan dan menghalalkan, namun para guru ini utamanya adalah pembawa kabar gembira, membimbing kaumnya dengan kebijakan kasih sayang, merendahkan sayapnya laksana induk ayam yang mengerami telur-telur kesayangannya sehingga menetas sempurna. Para guru ini adalah pemberi solusi bagi kebangkitan dan perubahan, mampu menemukan kekuatan dan keunggulan kaumnya utk disempurnakan akhlaknya sehingga menjadi energy yg tak terbendung bagi kebangkitannya kelak.

Mereka, para Guru ini adalah sentra bagi tersebarnya rahmat bagi semesta alam. Mereka adalah sentra pembentukan generasi terbaik sesuai potensinya. Mereka adalah sentra pembentukan komunitas wasathon, komunitas yang melakukan tugas orkestrator dan integrator bagi perubahan dunia. Sesungguhnya merekalah sejatinya para ustadziatul alam, ..Guru Sejati bagi Semesta…

Guru ini tidak turun dari langit, mereka hidup, makan, tidur, belajar, bersosial dengan kaumnya sepanjang hidupnya. Mereka mengenal dengan dalam dan tajam setiap keunikan anggota komunitasnya dan keunikan komunitasnya secara keseluruhan, lalu memberi kesempurnaan atas kearifan-kearifan itu dengan akhlak. Para Guru ini adalah pemimpin sejati yang terasa berat olehnya penderitaan kaumnya. Merekalah para penggembala setia kaumnya, merekalah para local community leader.

Para Guru sejatinya adalah para “local community leader”, merekalah para Guru visioner yang meretas jalan bagi kejayaan peradaban kaumnya. Sesungguhnya sekolah guru adalah sekolah para pemimpin bagi keberlanjutan komunitasnya, sekolah para pemimpin bagi desa-desa di negerinya…

Salam Pendidikan Masa Depan

 

This article is also available at http://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/212617615486508/

Pak Guru sang Pemimpin Desa

19 June 2012 in

Sudah sejak lama niat itu dipendam dalam-dalam, namun akhirnya niat itu mengkristal menjadi tekad membara yang bagai gelombang tsunami siap menggulung siapa saja yang berdiri pongah menghalangi jalannya. Tekad kuat itu adalah keyakinan untuk merevolusi pendidikan di negerinya yang carut marut tidak keruan. Revolusi yang dimaksud bukanlah melawan pemerintah, namun merancang pendidikan sendiri bersama komunitas desa dan menunjukkan pada Indonesia bahwa itulah pendidikan yang sejatinya baik dan benar bagi bangsa Indonesia.

Keyakinan bahwa pendidikan adalah solusi bagi kebangkitan bangsanya, dan tiada lagi sesudah itu, benar-benar terpatri kuat dalam benaknya. Semangat dan keyakinan berpadu, membuncah-buncah dalam benak dan hati.

Sanwani, begitu nama pemuda kelahiran betawi asli, sarjana Fisika dari PTN yang konon hebat di Pulau Jawa, sang pemilik tekad itu. Walau dia sarjana Fisika, kecintaannya pada dunia pendidikan dan kepedulian kepada anak-anak generasi masa depan bangsa, benar-benar mendarah daging.

Sanwani adalah anak pertama dari 13 bersaudara. Waktu kecil dia suka bermain sekolah-sekolahan, biasanya adik-adiknya beserta teman-teman adiknya menjadi kelinci percobaan sebagai muridnya. Tentu saja Sanwanilah gurunya sekaligus pembuat rapotnya.

Orang tuanya yang asli Betawi, memberinya tanggung jawab mengangon kambing sekaligus mengarit (menyabit) rumput untuk pakannya. Ilmu menggembala kambing inilah barangkali yang menambah passion nya untuk menjadi guru.

Ketika agak besar, dia sering dipercaya menggantikan ustadz Somad atau Wan Rosyid, guru ngaji di kampungnya di bilangan Palmerah, untuk mengajarkan pelajaran agama di langgar. Kecintaannya pada dunia pendidikan begitu mendalam, namun sayangnya kedua orang tuanya tidak mengizinkannya masuk Institute Keguruan setamat SMA, jadilah Sanwani masuk Fakultas MIPA di sebuah PTN.

Kesadaran kritisnya semakin tumbuh subur selama masa perkuliahan, namun kesadaran itu tidak didapat dari ruang-ruang belajar di kampus, tetapi didapat dari kegemarannya mendalami sejarah dan keterlibatannya dalam berbagai aktifitas gerakan mahasiswa di kampus. Pendapat bahwa Pendidikan sebagai salah satu dimensi peradaban untuk melahirkan peran-peran peradaban, semakin menambah keyakinannya. Sebagaimana gerakan anti penindasan seperti Ikhwan di Mesir, Santini Ketan di India, Taman Siswa dan Muhammadiyah di Indonesia dstnya, semuanya berporos pada pendidikan, begitulah sejarah berbicara.

Dari mana memulainya? Sanwani menyadari kenyataan bahwa kampung-kampung Betawi yang dulu indah hijau dan warganya yang ramah kepada setiap pendatang, kini semakin tergusur tanpa ampun baik fisik maupun budaya. Kekeluargaan tercerai berai, kemiskinan merayapi banyak sanak keluarganya karena budaya berkebun orang-orang Betawi tergusur pembangunan kota Jakarta yang sama sekali tidak hijau dan tidak ramah, Kota Jakarta kini tidak menginginkan tukang kebun buah dan tukang bunga tradisional, semua sudah diambil alih para produsen kakap atau importir. Dari sini Sanwani menyadari bahwa kedaulatan dan kemandirian bangsa tidak bisa tidak harus dimulai dari Kampung dan Desa!

Tekadnya sudah kuat, kepahitan dan ketersingkiran warga kampung-kampung Betawi akibat urbanisasi tidak boleh terulang. Dia harus berbuat sesuatu dan bukan dimulai dari kampung kelahirannya yang sudah kehilangan kearifan lokal bahkan pudar komunitasnya, namun dimulai dari desa sekitar Jakarta. Pendidikan adalah pilihan perjuangannya, dan desa adalah medan perjuangannya karena itulah keyakinannya.

Lalu bersama keluarganya, seorang istri dan dua orang anaknya yang masih kecil, dia memutuskan untuk hijrah ke salah satu kecamatan di Karawang. Dibelinya sebidang Lahan dengan beberapa petak lahan kebun dan sawah, dari uang pesangon di perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta. Sanwani mulai menjalani kehidupannya di desa sambil sedikit berkebun dan beternak.

Awalnya dibuatlah taman bacaan di rumahnya, anak-anak desa boleh membaca sepuasnya secara gratis. Sesekali anak-anak diajarkan teknologi sederhana, seperti membuat kompor matahari, pembangkit listrik mini tenaga angin atau air dan sebagainya. Latar belakang pendidikan Fisika sedikit banyak membantunya, walaupun kebanyakan rancangannya adalah modifikasi dari Internet. Jaringan di Sosial Media pendidikan di internet juga banyak membantu melahirkan idea-idea yang bermanfaat.

Selain itu Sanwani juga pandai membangun “local network” dengan mengambil hati para Ustadz di kampung itu, sehingga lambat laun dipercaya pula mengelola majlis taklim Ibu-ibu dan sesekali Bapak-bapak. Kesempatan ini dipergunakan Sanwani untuk memberi penyadaran mengenai apa sesungguhnya tujuan pendidikan.

“Bapak Ibu sekalian yang dimuliakan Allah, pendidikan sejatinya adalah memberikan manfaat bagi masyarakatnya, bukan sekedar menumpuk pengetahuan yang tidak terkait dengan permasalahan sosial dan lingkungan”, begitu pesan-pesan Sanwani yang senantiasa disampaikan.

Taman Bacaan Sanwani kini berkembang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Warga. Diskusi-diskusi permasalahan warga dari urusan pengasuhan anak sampai hama wereng kini menjadi agenda menarik baik di Masjid tempat SanWani menjadi ustadz “serep” (cadangan) maupun di Pusat Kegiatan Belajar Warga yang dikelola Sanwani dan istri.

Dibuatlah kelompok-kelompok kajian untuk mencari solusi. Sanwani dan istri, melakukan pelatihan perkebunan dan pertanian Organik dan bahkan pelatihan manajemen, kadang-kadang mengundang teman-teman ahli pertanian sesama alumni di almamaternya dulu untuk bersedekah ilmu.

Warga secara gotong royong membangun pusat-pusat belajar ini dengan menggunakan bahan baku bambu yang kebetulan mudah dan banyak ditemui di desa itu. Tradisi belajar menjadi terbangun karena kegairahan warga yang dipicu bahwa apa yang mereka pelajari dan praktekkan benar-benar menjadi solusi nyata bagi permasalah di desa itu.

Sanwani menerapkan Multi Age Class dalam pembelajaran. Jadi secara level kelas, warga yang belajar hanya dikelompokkan menjadi Kelas Dasar (usia 7-10 tahun), Kelas Pra-Baligh (usia 11-14 tahun) dan kelas Dewasa (usia di atas 14 tahun). Sarwani menerapkan CBL-Context based Learning untuk Kelas Dasar dengan media belajar menggunakan Talular (Teaching and Learning using Local Resources), yaitu menggunakan sumberdaya yang banyak terdapat di desa itu secara mudah dan murah.

Sementara metode Project based Learning digunakan untuk kelas di atasnya. Belajarnya bukan di ruang2 kelas saja, namun justru lebih banyak praktek langsung di Kebun atau di Sawah bersama petani dan pekebun teladan, itu semua dalam rancangan proyek bersama.

Selain itu dalam satu team proyek, anggota team di tempatkan sesuai talentanya, misalnya yang berbakat pemimpin akan dijadikan manajer proyek, yang berbakat teknik akan ditempatkan pada pengembangan teknologi. yang berbakat marketing akan ditempatkan sebagai marketer, yang berbakat design akan ditempatkan untuk merancang kemasan dstnya. Selama proses proyek, karakter dan akhlak dapat dibangun dan ditumbuhkan tanpa harus dikurikulumkan.

Dalam model demikian tidak perlu UN, yang diperlukan adalah pengakuan masyarakat di akhir Project bahwa siswa yang terlibat proyek sudah terbukti dan dianggap mampu membangun desanya. Tujuan pendidikan seperti ini adalah melahirkan pemuda yang mampu membangun desanya sesuai talentanya, selebihnya silahkan siswa belajar lebih lanjut. Yang penting adalah “kutahu yang kumau” untuk membangun desanya.

Sekolah-sekolah yang ada di kecamatan itu banyak meniru model pembelajaran Sarwani. Para Guru justru semakin bergairah mengajar dan kepala sekolah semakin memiliki pijakan, mengapa dia harus menjadi kepala sekolah, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memajukan desanya, bukan sekedar menunggu tunjangan sertifikasi.

Sedikit demi sedikit permasalahan warga teratasi dengan Kegiatan Belajar Bersama (pendidikan) sebagai sentranya. Masalah kekurangan energy di desa itu telah teratasi dengan dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Hydro, bahkan kelebihan listriknya bisa dijual ke desa sebelah. Masalah pembagian sumberdaya air telah teratasi dengan irigasi yang baik. Masalah lahan kritis telah diatasi dengan menanam pohon keras produktif yang bisa menghasilkan profit 15 Milyar per 10 Hektar dalam waktu 10 Tahun. Masalah kenakalan remaja, pengangguran dan ketidakharmonisan rumah tangga karena masalah ekonomi bisa direduksi secara signifikan. Sarwani pun bersama warga membangun koperasi bersama sekolah dan warga serta memasarkan hasil pertanian dan perkebunannya untuk desa sekitarnya dan sebagian lagi dijual ke kota.

Sekali lagi, Sanwani tidak sendiri, dia menggunakan jaringan sosial di dunia maya untuk mendapatkan pengetahuan, pencerahan dan dukungan dari berbagai komunitas terkait termasuk market.

Sarwani membuktikan bahwa pendidikan tidak harus serumit dan sepelik serta semahal yang dirancang pemerintah yang setengah hati melakukan desentralisasi. Pendidikan cukup mengkontekskan proses dan outputnya kepada realitas sosial, lingkungan dan ekonomi warga lalu menyerahkan prosesnya kepada komunitas warga.

Sanwani tidak pernah habis fikir mengapa anggaran 20% dari 1200T rupiah untuk pendidikan itu tidak pernah berhasil memperbaiki pendidikan bangsa ini. Sarwani tidak peduli dengan segala anggaran negara itu dan yang ingin ditularinya ke masyarakat adalah bahwa semestinya pendidikan dirancang sebagai sentra untuk memandirikan desa atau kampung, karena itu pendidikan harus berbasis keunggulan lokal dan berbasis komunitas warga desa.

Kini model pembelajaran Sarwani bisa ditiru di desa-desa di seluruh Indonesia, karena teman-teman Sarwani membuatkan portal pendidikan di internet yang memuat semua pengalaman Sarwani membangun desanya sehingga mudah dan murah untuk dipraktekan dan disesuaikan dengan kondisi desa di Indonesia. Sarwani memohon kepada Allah swt agar para Guru menjadi Guru yang mampu melahirkan siswa yang membangun desanya bukan sekedar hafalan-hafalan kosong yang tidak diterima langit dan ditolak bumi.

(Kisah Imajinatif)

 

This article is also available at http://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/247517831996486/

GURU – Cerpen Putu Wijaya

17 June 2012 in

 

Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.

“Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!”
Taksu mengangguk.
“Betul Pak.”
Kami kaget.
“Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?”
“Ya.”

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.

Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.

“Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!”

“Tapi saya mau jadi guru.”

“Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!”

“Sudah saya pikir masak-masak.”
Saya terkejut.
“Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!”
Taksu menggeleng.
“Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru.”
“Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!”

Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

“Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!”

Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

“Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak,” katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.

Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

“Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!” damprat istri saya. “Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?”

Taksu tidak menjawab.

“Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?”

Taksu tetap tidak menjawab.

“Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?”

Taksu mengangguk.

“Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?”

Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.

“Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!”

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.

“Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!”

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

“Bagaimana Taksu,” kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. “Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak.”

Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
“Hadiah apa, Pak?”
Saya tersenyum.
“Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?”
Taksu memandang saya.
“Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?”
Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.

“Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!”

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

“Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak.”

Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

“Saya ingin jadi guru. Maaf.”

Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.

“Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa.”

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.

“Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?”

“Mau jadi guru.”

Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

“Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!”

“Karena saya ingin jadi guru.”
“Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!”
“Saya mau jadi guru.”
“Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru.”
Taksu menatap saya.
“Apa?”
“Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!” teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.
“Baak tidak akan bisa membunuh saya.”

“Tidak? Kenapa tidak?”

“Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak.”

Saya tercengang.

“O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?”

“Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati.”

Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.

“Bangsat!” kata saya kelepasan. “Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?”

Taksu memandang kepada saya tajam.

“Siapa Taksu?!”
Taksu menunjuk.
“Bapak sendiri, kan?”
Saya terkejut.

“Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?”

Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

“Tidak betul cinta itu buta!” bentak saya kalap. “Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini,” lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. “Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!”

Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
“Ini satu milyar tahu?!”
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.

“Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!”

Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.

“Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!” teriak istri saya kalap.

Saya bingung.

“Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!”

Saya tambah bingung.
“Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!”

Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?

“Ayo cepat!” teriak sitri saya kalap.

Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

“Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru.”

Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.

Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

“Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja,” ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi.

this article is also available at http://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/323780284370240/

source: http://www.lokerseni.web.id/2011/08/cerpen-pendidikan-guru-karya-putu.html#ixzz1xNcRDQT0

Guru dalam Buku dan Film: Bu Suci (Pertemuan Dua Hati)

17 June 2012 in

Novel Pertemuan Dua Hati karya NH Dini adalah sebuah kisah nyata yang menceritakan tentang seorang bernama Bu Suci.

Dia adalah seorang guru SD biasa yang sederhana. Orang seperti Bu Suci tidak langka berseliweran di segala ruang di negeri ini. Bu Suci mungkin sedang duduk disebelah Anda di suatu angkot pada suatu hari, atau dialah figur yang Anda lihat sedang berdiri di pintu pada pagi berhadapan dengan serombongan anak berseragam yang ngantri cium tangan sebelum masuk kelas. Mungkin dialah orang yang Anda beri klakson keras-keras tidak sabar ketika dia melintas menyebrang jalan di depan Anda. Atau siapa tahu dia adalah perempuan yang menandatangani rapor buah hati Anda. Orang biasa yang bersahaja, seperti cara kisahnya dituturkan oleh NH Dini.

Kisah dimulai dengan hadirnya seorang guru baru bernama Suci di suatu SD di Semarang. Beliau baru saja pindah ke kota itu mengikuti suaminya yang pindah tugas. Di sekolah baru ini Bu Suci harus mengajar di dua kelas tiga sekaligus dalam satu waktu, yang diantaranya dipisahkan dengan pintu. Jadi beliau harus mondar mandir. Satu kelas muridnya ada 50 orang, maka total anak yang menjadi tanggung jawabnya tahun itu adalah 100 orang. Pun langsung menghadapi persoalan. Salah satu anaknya sudah akan dikeluarkan oleh sekolah. Waskito namanya.

Waskito adalah anak sering membuat onar. Dia senang mengamuk memukuli anak lain, membolos dan membangkang. Bagi anak-anak lain, Waskito Cuma tukang bikin masalah yang sebaiknya cepat-cepat pergi saja, bagi guru-guru Waskito adalah anak nakal yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi prilakunya.

Bu Suci benar-benar menggunakan berbagai macam cara untuk mendekati Waskito. Dengan kasih sayang dia tidak hanya berusaha menasihati di kelas, Bu Suci menyurati keluarga dan mendatangi rumah Waskito. Mengundang anak itu untuk datang ke rumahnya dan mengajak bicara dari hati ke hati.

Saat pertama kali membaca novel ini ketika SMA, di mata saya, Bu Suci adalah seorang guru yang luarbiasa. Sekeren Pak Keating di Dead Poet Society atau The Carzy Joe Clark di Lean on Me. Setelah membaca ulang beberapa minggu yang lalu, saya sadar bahwa Bu Suci adalah seorang guru biasa-biasa saja. Ups! Bukannya saya mengecilkan, namun justru itulah pointnya. Ditengah hujatan kepada guru di negeri ini, apa yang menjadikan perbedaan antara Bu Suci dengan guru sekolah di depan gang rumah Anda? Bahwa Bu Suci, atau Bu Muslimah, dicatat dalam bentuk tulisan pikiran dan perbuatannya. Seseorang mengisahkan hari-harinya.

Makanya guru ngeblog, dong! Kalo gak ada yang nulis tentang kita, kita aja nulis tentang diri sendiri, hehehe… Lagian, siapa yang bisa memperbaiki nama guru kalau bukan guru itu sendiri, ya, gak? Masa sih kisah tentang guru di negeri ini musti ditulis sama media massa melulu yang gak pernah mingser dari cerita guru tukang pukul, tukang cabul, dan ngasih contekan pas UN. Penuh dengan itu, seakan-akan jadi semua guru seperti itu.

Hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh Bu Suci memang keseharian dari guru dimana-mana. Beberapa jujur menyuarakan isi hati saya, dan menyatakan keluhan, yang tak pernah berani saya kemukakan:

Kalau dia keluar dari sekolah kami, persoalan akan selesai. Itu lebih mudah. Tapi dia masih terdaftar dalam kelas yang menjadi tanggung jawabku (hal. 35)

Yep, ada kalanya saat menghadapi murid sukar, dalam hati saya mengharapkan si anak keluar saja. Capek, lelah, dan berpikir untuk apa susah toh bukan anak sendiri bukan kerabat. Tapi, seperti yang dikemukakan oleh Bu Suci, anak ini berada di kelas yang menjadi tanggungjawab saya.

Terkadang, membantu murid sukar pun musti terbentur pada orang, yang seharusnya paling mendukung perbaikan.

Semua itu membutuhkan tenaga pikiran kami kaum pengajar. Baik untuk membuat mereka dapat mencernakan pelajaran maupun tegak tanpa bantuan, menjadi manusia yang bertanggungjawab. Adakalanya keadaan menjadi kritis, sifat lemah si murid mendorong dia ke arah gerakan kekerasan atau kejahatan kepada sesama anak, penunggakan kelas, membolos berhari-hari. Dalam hal demikian, kami harus berunding dengan orangtua murid. Disinipun guru tidak selalu berhasil, karena ada bermacam-macam orangtua. Kalau orangtua bersifat terbuka, bersama guru akan segera ditemukan jalan bagaimana menolong si murid. Sayang sekali tidak semua orangtua demikian. Mereka sukar berterusterang, sehingga tidak membantu melancarkan pertumbuhan anak ke arah perkembangan yang diharapkan. Mereka khawatir atau malu terhadap guru yang dianggapnya orang luar. Padahal maksud kami tidak hendak membongkar rahasia keluarga. Kami hanya ingin menolong anak didik kami.

Seperti berjuta-juta ibu pekerja lainnya, ada saatnya dia tiba pada suatu titik dimana dia harus memilih antara pekerjaan dan keluarganya. Ketika sang anak kandung divonis terkena epilepsi, Bu Suci termangu dan menghadapkan dirinya pada suatu pilihan mana yang harus didahulukannya. Anaknya sendiri, atau anak-anak didiknya.

Anak dan murid. Bukan anak atau murid. Ya, akhirnya itulah yang harus kupilih: kedua-duanya. Aku ingin, dan aku minta kepada Tuhan agar diberi kesempatan mencoba mencakup tugasku di dua bidang: sebagai ibu dan sebagai guru. Dengan pertolongan-Nya, pastilah aku akan berhasil. Karena Dia mahabisa dalam segala-galanya. (hal.46)

Tentu jadinya sulit. Bu Suci harus lari-lari dari rumah sakit menemani anaknya yang harus menjalani pemeriksaan ini itu menuju sekolah untuk dapat menengok kelasnya sekedar tahu, bahwa kelasnya tentram dan anak-anak didiknya baik-baik saja.

Saya kira, novel ini bagus dibaca berbagai kalangan. Sebagai pengingat atas jasa orang lain pada kita atau mengingatkan atas idealisme, yang mungkin sudah agak luntur.

This article is also available at http://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/324693454278923/

source: http://alifiaonline.wordpress.com/2009/12/29/guru-dalam-buku-dan-film-bu-suci-pertemuan-dua-hati/#more-2343
Posted on 29 Desember 2009 by AL

Guru dalam Buku dan Film: Botchan (Botchan)

12 June 2012 in

 

 

 

 

Kata Botchan tidak dapat diterjemahkan karena berbagai nuansa yang terkandung di dalamnya. Pada dasarnya kata itu merupakan panggilan sopan untuk para anak laki-laki, terutama ketika mereka masih kanak-kanak, dari keluarga terpandang. Sapaan ini serupa dengan ‘tuan muda’, namun dengan nuansa kedekatan dan kasih sayang di dalamnya. Dalam beberapa kasus, kata ini juga bisa digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang agak manja dan menuruti maunya sendiri.

Alan Turney.

Aku pada kisah ini tidak pernah disebutkan namanya selain hanya sebagai Botchan saja yang figurnya hampir merupakan representasi dari kata tersebut. Dia adalah putera kedua dari keluarga terhormat yang pada masa kecilnya dikenal sebagai seorang anak yang minta ampun badungnya. Dia digambarkan sebagai orang yang bersumbu pendek, sangat gampang tersulut emosi, namun perasa dan tidak segan mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain.

Panggilan Botchan didapatinya bukan dari ibu ataupun ayah, namun dari Kiyo, pembantunya, yang nampaknya memang satu-satunya orang yang mau melihat sisi terbaik dari anak ini, dan memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya. Sang ibu yang sakit-sakitan lebih banyak marah dan kemudian menyalah-nyalahkannya atas sakit yang semakin parah dideritaanya. Segera setelah Sang Ibu meninggal dunia, Sang Ayah pun mengambil keputusan untuk setuju dengan perkataan almarhum istrinya dan mulai membenci anak bungsunya ini. Bahkan jika tanpa dihalangi oleh Kiyo, Sang Ayah sungguhan mengusir anak lelakinya yang masih kanak-kanak itu. Walaupun akhirnya tidak jadi, namun tetap saja perlakuannya terhadap Botchan tidak berubah. Namun karena Botchan sendiri bukan orang yang pencemburu dan iri terhadap perbedaaan perlakuan dari Sang Ayah terhadap dirinya dan Sang kakak, maka hidup berjalan terus tanpa banyak kesulitan.

Sampai Sang Ayah meninggal dunia.

Sang Kakak yang dianggap sebagai pewaris tunggal nampaknya cukup baik hati dengan memberikan uang sejumlaah 600 yen kepada adiknya yang masih remaja sebagai ‘pensiun’, hehe.. Hubungan mereka selesai sampai di situ. Sang Kakak memutuskan bahwa sudah tidak ada apapun lagi diantara mereka berdua. Pada saat itu satu-satunya yang ada di pikiran Botchaan adalah Kiyo yang sudah tidak muda lagi sedangkan yang dapat dia lakukan hanyalah menyisihkan sebagian uang pemberian itu kepadanya ditambah janji bahwa pada suatu hari dia akan datang kembali menjemputnya, dan mengajak Kiyo untuk tinggal bersamanya, jika keadaannya sudah memungkinkan. Tanpa diduga, janji ini sungguh-sungguh dipegang erat Kiyo.

Botchan pergi ke Tokyo dan memutuskan untuk menggunakan uang yang tersisa sebagai modal melanjutkan pendidikannya di sekolah guru. Beberapa tahun kemudian pekerjaan pertamanya pun datang. Dia dikirim menjadi pengajar matematika di sebuah sekolah desa di salah satu pulau di Jepang.

Membaca buku ini sungguh membuat pikiraan saya melayang kepada Les Choristes(silahkan baca ini dan yang ini) , bagaimana si Botchan yang waktu kecil minta ampun boadung itu pada akhirnya seakan mendapatkaan karma: harus mengasuh segambreng anak lelaki yang amit-amit jahilnya!
Tidak banyak berubah dari pembawaan masa kecilnya, Botchan tetap orang yang apa adanya. Malas untuk menjaga sikapnya sebagai seorang guru yang dianggap sebagai pekerjaan terhormat di masyarakat. Dia tidak berusaha menutup-nutupi kelemahannya dihadapan siswanya. Ketika mendapati sebuah soal yang tidak dapat dipecahkannya pada saat itu juga, dengan entengnya dia mengatakan bahwa dia tidak bisa namun tetap akan dia coba lagi di rumah. Kalau sudah dipecahkannya, dia janji, aakan membahasnya di kelas.

Okeh, itu memang hal yang biasa…untuk saat ini. Tapi karya ini sendiri keluar pada masa awal restorasi meiji yang pada saat itu, seorang guru mengatakan bahwa dia tidak tahu adalah hal yang sangat aneh. Maka mulailah ledekan ‘guru goblok’ menempel pada Botchan, ditambah pula dia dijadikan bulan-bulanan keisengan anak-anak yang kadang memang sudah menjurus ke kurang ajar. Tapi Botchan tetaplah Botchan yang dulu. Dia sama sekali tidak berusaha untuk mengambil hati mereka. Anak-anak didiknya ini barulah sadar bahwa Sang Guru Matematika yang selama ini mereka lecehkan itu adalah orang yang sungguh-sungguh peduli terhadap mereka. Tapi sayangnya itu sudah terlambat. Sang Guru sudah dipaksa mengundurkan diri dan pergi dari desa mereka.

Menghadapi anak-anak badung itu satu hal yang musti dihadapi dengan tabah oleh Botchan, walaupun gak pasrah-pasrah amat juga, sih! Menghadapi ruwetnya tetangga adalah hal yang lain lagi. Botchan yang walaupun berasal dari keluarga terhormat toh tumbuh besar di kota besar Edo (Ibukota Jepang sebelum Tokyo, baidewei!), maka kehidupan masyarakat desa benar-benar merupakan kejutan baginya. Masyarakat desa bukanlah sebagaimana yang selalu dilukiskan oleh para penulis yang romantis sebagai masyarakat yang sederhana, namun masyarakat yang ikut campur dengan urusan orang lain. Bahkan Botchan yang cueknya gak kira-kira itupun pada akhirnya harus mau lebih berhati-hati dan menjaga sikapnya.

Salah satu keribetan saat membaca karya asing adalah bagaimana menghafal tokoh yang berseliweran di dalamnya (Hmm, kalo saya nulis cerita, gak bakalan bikin nama-nama yang ribet, dah!), nah di kisah ini lebih diperumit lagi dengan kebiasaannya si Botchan yang suka memberikan julukan-julukanseperti ‘baju merah’ ‘badut’ atau ‘labu hijau’ kepada orang-orang yang tentu saja membuat kita harus lebih teliti lagi kalau gak mau kehilangan jejak.

Botchan adalah guru yang hebat, menurut beberapa tokoh di kisah, walaupun tidak banyak dikupas bagaimana manajemen kelasnya. Kisah lebih banyak berputar di ruang guru tempatnya sering berkeluh kesah mengenai rekan-rekannya. Ini agak saya sayangkan mengingat Natsume Soseki, sang penulis, sungguh-sungguh seorang guru dan peneliti yang pernah mengajar di desa pedalaman Jepang (Bukan! Kata penulisnya ini bukan kisah nyata maupun pengalamannya!) yang saya yakin, pastilah akan banyak yang bisa saya dapatkan dari situ.

Well, itu bedanya sebuah karya yang baik, bukan? Tidak lekang oleh waktu. Lewat 100 tahun kemudian, Botchan tetap hidup dan memiliki penggemar sementara Shinchan, yaa, waktu yang menjawabnya, hehe..

Dan satu hal yang kembali saya diingatkan adalah mengenai insting kita. Bahwa kadang-kadang, penilaian pertama-tama kita terhadap seseorang yang baru kita temui adalah penilaian yang paling benar. Dan kita tahu, pada saat itu juga, bahwa kita telah bertemu dengan sahabat kita.

http://alifiaonline.wordpress.com/2012/01/04/guru-dalam-buku-dan-film-botchan-bothcan/#more-4014